Perkuat Sinergi Lintas Sektor, DPPKB Kutim Siap Luncurkan Program AKSIS

SAMARINDA – Upaya membangun kolaborasi lintas sektor untuk penanganan kemiskinan dan stunting terus dimatangkan. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur melakukan kunjungan kerja sekaligus audiensi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kalimantan Timur di ruang rapat instansi tersebut, Senin (2/3/2025). Pertemuan ini menjadi bagian dari persiapan Launching Program Akademi Kolaborasi Penanganan Kemiskinan dan Stunting (AKSIS) serta pembukaan Sekolah Lansia perdana di Kutai Timur.

Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi B, menjelaskan audiensi tersebut merupakan pendelegasian Wakil Gubernur selaku Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPS) kepada DP3A Kaltim untuk menerima dan menindaklanjuti rencana program.

“Kami berterima kasih hari ini bisa diterima oleh Plt Kepala DP3A Provinsi beserta jajaran, termasuk Dinas Kesehatan dan JFT. Hasilnya sangat positif. Beberapa rencana ke depan akan disampaikan langsung kepada Pak Gubernur dan Ibu Gubernur selaku Bunda Genre,” ujarnya.

Ia menyebut, dukungan tersebut terutama terkait rencana launching AKSIS dan Sekolah Lansia. Kehadiran Dinas Kesehatan dalam audiensi juga dinilai sebagai bentuk kepedulian lintas sektor terhadap upaya peningkatan kualitas keluarga, meski lokus utama program tak semata pada isu stunting.

Ke depan, DPPKB Kutim berencana mengajak organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk terlibat lebih komprehensif. Mulai dari Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, hingga Dinas Pendidikan, agar sinergi program penanganan kemiskinan dan stunting berjalan terpadu, sebagaimana pola kerja tim saat turun lapangan sebelumnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala DP3A Kaltim, Anik Nurul Aini, menegaskan pihaknya siap mendukung penuh inovasi yang digagas DPPKB Kutim. Menurutnya, rencana kegiatan AKSIS yang dijadwalkan berlangsung pada April mendatang dinilai sebagai langkah strategis.

“Kami dari provinsi sangat mensupport. Kalau memang ada inovasi yang belum kami miliki, kenapa tidak kami jadikan percontohan. Tidak harus provinsi yang dicontoh, kabupaten/kota pun bisa menjadi yang terbaik,” tegasnya.

Ia menambahkan, pihaknya terbuka menerapkan prinsip “Amati, Tiru, Modifikasi” terhadap inovasi daerah yang dinilai efektif. Dukungan tersebut diharapkan mampu memperkuat kolaborasi dalam percepatan penanganan kemiskinan dan stunting di Kalimantan Timur.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup

IKLAN ADSENSE MELAYANG BAWAH