Camat Muara Ancalong Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor, Stunting Turun Signifikan

SANGATTA – Komitmen percepatan penurunan stunting melalui penguatan kolaborasi lintas sektor dan strategi jemput bola, angka stunting di wilayahnya turun signifikan. Pernyataan tersebut disampaikan Camat Muara Ancalong, Saberan Nete, dalam perannya sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kecamatan dalam Podcast Bangga Kencana bertajuk Peran TPPS Kecamatan Mendukung Layanan Cap Jempol Stop Stunting di Kutai Timur yang digelar di Ruang Multimedia Kantor Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kutai Timur, Rabu (18/2/2025).
“Alhamdulillah ada progres. Kami tidak menunggu, tapi langsung turun ke lapangan bersama tim untuk memastikan data dan melakukan intervensi,” ujar Saberan.
Berdasarkan data TPPS, terdapat 565 keluarga berisiko stunting di Muara Ancalong. Dari jumlah itu, kasus stunting yang sebelumnya mencapai 40 anak kini berhasil ditekan menjadi 25 anak. Ia menjelaskan, langkah pertama yang dilakukan adalah memvalidasi data berbasis by name by address. Tim kecamatan bersama kader posyandu, Tim Pendamping Keluarga (TPK), PKK, serta tenaga kesehatan memastikan setiap keluarga berisiko benar-benar terdata dan diketahui persoalannya.
“Kalau persoalannya sanitasi, kita tangani sanitasinya. Kalau rumahnya tidak layak, kita dorong intervensi. Jadi datanya harus valid dan siap ditindaklanjuti,” tegasnya.
Selain itu, TPPS juga menggencarkan pencegahan dari hulu, termasuk mengantisipasi pernikahan usia dini melalui koordinasi dengan Kantor Urusan Agama (KUA). Bahkan, pihak kecamatan melakukan razia remaja pada malam hari sebagai bagian dari perlindungan generasi muda dari risiko pergaulan bebas dan penyalahgunaan narkoba yang berdampak pada masa depan keluarga.
Dalam aspek pembiayaan, Saberan mengungkapkan pihaknya membangun komunikasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) untuk membantu biaya persalinan keluarga kurang mampu. Tidak hanya itu, rapat lintas sektoral juga digelar untuk mendorong perusahaan berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial (CSR) berbasis data keluarga berisiko stunting.
“Kami tidak ingin menunggu anggaran perubahan. Begitu ada data dan kebutuhan mendesak, langsung kami tindak lanjuti melalui kolaborasi,” pungkasnya.
![]()







