Cegah Stunting Sejak Dini, Dinas Kesehatan Kutim Fokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan

Kutai Timur, Etensi.com – Dinas Kesehatan Kutai Timur (Dinkes Kutim) terus mengintensifkan upaya pencegahan stunting dengan menitikberatkan perhatian pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni periode sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr. H. Bahrani, menegaskan bahwa pendekatan ini merupakan langkah strategis untuk memastikan anak-anak di Kutim tumbuh sehat dan terbebas dari masalah gizi.
“1000 Hari Pertama Kehidupan adalah periode emas yang menentukan tumbuh kembang anak. Jika gizi dan kesehatannya terjaga sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun, risiko stunting dapat diminimalisir,” ujar dr. Bahrani.
Program 10 T untuk Ibu Hamil
Sebagai bagian dari pencegahan stunting, Dinkes Kutim mengimplementasikan Program 10 T yang ditujukan untuk ibu hamil. Program ini mencakup berbagai layanan pemeriksaan, seperti penimbangan berat badan, pengecekan tekanan darah, pemantauan posisi janin, serta tata laksana persalinan bagi ibu dengan risiko tinggi.
“Kami memastikan ibu hamil mendapatkan pemeriksaan lengkap agar bayi yang dikandungnya lahir sehat dan tumbuh optimal. Pemeriksaan tekanan darah misalnya, penting untuk mencegah preeklamsia yang berisiko bagi ibu dan bayi,” tambahnya.
Selain pemeriksaan medis, Dinkes Kutim juga mendorong pemberian edukasi gizi kepada ibu hamil, terutama mengenai pentingnya konsumsi protein, zat besi, dan vitamin yang cukup selama kehamilan.
Fokus pada Gizi Anak Usia Dini
Setelah kelahiran, perhatian diberikan pada pemenuhan gizi bayi, termasuk dengan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama, serta MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang bergizi setelahnya. Dinkes Kutim juga bekerja sama dengan puskesmas dan posyandu untuk memantau pertumbuhan anak, memastikan berat badan dan tinggi badan sesuai dengan standar kesehatan.
“Kami mengajak para orang tua untuk rutin membawa anaknya ke posyandu agar pertumbuhan dan perkembangannya dapat dipantau. Jika ada tanda-tanda kurang gizi, bisa segera ditangani lebih awal,” tegas dr. Bahrani.
Kolaborasi dengan Berbagai Pihak
Dalam menjalankan program pencegahan stunting, Dinkes Kutim tidak bekerja sendiri. Mereka berkolaborasi dengan pemerintah desa, tenaga kesehatan, serta kader posyandu untuk melakukan pemantauan dan intervensi dini.
“Kunci utama dalam menekan angka stunting adalah keterlibatan semua pihak. Dengan bekerja sama, kita bisa memastikan setiap anak di Kutai Timur mendapatkan haknya untuk tumbuh sehat dan cerdas,” pungkasnya.
Dengan pendekatan berbasis 1000 Hari Pertama Kehidupan, diharapkan angka stunting di Kutai Timur dapat terus ditekan, sehingga generasi masa depan tumbuh lebih sehat dan berdaya saing tinggi. (Adv)
![]()











