Banyaknya Kewenangan Daerah Kembali Ke Pusat, Pemerintah Daerah Bakal Sulit Meningkatkan PAD

Etensi.com, Sangatta – Pemerintah daerah saat ini bakal menghadapi kesulitan dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sentralisasi yang terjadi membuat mereka sulit untuk mandiri dan terlepas dari ketergantungan terhadap Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat.

Pendapat ini diungkapkan oleh anggota DPRD Kutim, Hepnie Armansyah. Menurutnya, banyak kewenangan daerah yang telah ditarik kembali ke pusat, termasuk pengelolaan laut, perizinan pertambangan, dan bidang lainnya. Akibatnya, daerah menjadi kesulitan dalam meningkatkan PAD mereka.

Padahal, potensi sumber PAD, seperti pengelolaan laut, perizinan pertambangan, perkebunan, dan lain-lain, sangat besar. Jika pemerintah pusat khawatir dengan keberadaan kekuasaan lokal, sebaiknya mereka memperketat pengawasannya, bukan menarik kewenangan ke pusat.

“Dengan penarikan berbagai kewenangan ke pusat, PAD Kutim tetap stagnan, selalu sekitar Rp200 miliar. Anggaran Daerah ini hanya besar karena DBH dari tambang batu bara, minyak, dan sekarang dari sawit. Jika tidak ada sumber-sumber tersebut, maka anggaran kami akan jauh lebih kecil,” jelas Hepnie.

Dia juga menyebutkan contoh jika kewenangan pengelolaan laut masih diberikan sepenuhnya kepada daerah, setidaknya ada pendapatan dari retribusi TPI dan berbagai sumber PAD lainnya. Dengan adanya sentralisasi, DPRD juga menjadi ragu dalam mengalokasikan anggaran untuk nelayan, padahal mereka adalah warga daerah yang seharusnya mendapat bantuan.

“Oleh karena itu, saya pribadi tidak menyukai sentralisasi seperti ini, karena tidak sesuai dengan semangat otonomi daerah,” tuturnya.

Pemerintah daerah perlu mencari solusi untuk menghadapi tantangan ini. Mereka harus berupaya mempertahankan kewenangan dan sumber PAD mereka agar daerah dapat berkembang secara mandiri. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan kepentingan masyarakat lokal, seperti nelayan, sehingga mereka dapat merasakan manfaat dari pembangunan daerah secara adil.(Etn1/Adv)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup

IKLAN ADSENSE MELAYANG BAWAH