Kominfo Kutai Timur

Peringati HAN 2026, Disdikbud Kutim Perkuat Pendidikan Inklusif Sejak Usia Dini

BENGALON – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur memperkuat komitmen terhadap penyelenggaraan pendidikan inklusif sejak usia dini melalui Seminar Pendidikan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Kecamatan Bengalon, Senin (21/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Serbaguna Desa Sepaso Timur tersebut menjadi wadah penguatan pemahaman bagi pemangku kepentingan pendidikan mengenai pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah anak dan bebas diskriminasi.

Seminar ini diikuti 120 peserta yang terdiri dari unsur pemerintah kecamatan dan desa, Bunda PAUD, Penilik PAUD-PNF, Koordinator Wilayah Kecamatan Bengalon, organisasi mitra pendidikan, Pokja Bunda PAUD, serta kepala satuan pendidikan, guru dan tenaga kependidikan PAUD.

Bunda PAUD Kutai Timur, Siti Robiah Ardiansyah, menegaskan bahwa pendidikan inklusif perlu dibangun sejak anak berada pada tahap pendidikan anak usia dini (PAUD).

“Tidak ada anak yang tidak bisa belajar. Yang ada adalah cara belajar yang belum kita temukan,” ujar Siti Robiah dalam arahannya.

Ia mengajak seluruh satuan PAUD di Kutai Timur untuk mengembangkan lingkungan pendidikan yang ramah terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK) dan penyandang disabilitas.

Menurutnya, setiap anak memiliki keistimewaan dan hak yang sama untuk memperoleh pendidikan tanpa perlakuan diskriminatif.

Dalam kesempatan tersebut, Siti Robiah juga mengingatkan agar pendidikan anak usia dini tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca, menulis dan berhitung (calistung).

Ia menekankan bahwa usia 0–6 tahun merupakan masa penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, proses pembelajaran perlu dilakukan melalui kegiatan yang sesuai dengan karakteristik anak, seperti bermain, bernyanyi dan bercerita.

“PAUD bukan ajang calistung dini. PAUD adalah taman bermain yang bermakna,” tegasnya.

Selain aspek pembelajaran, ia mendorong para pendidik dan orang tua untuk memastikan anak terlindungi dari kekerasan, penggunaan gawai secara berlebihan dan tekanan yang tidak sesuai dengan tahap perkembangannya.

Penguatan pendidikan inklusif, lanjut Siti Robiah, tidak dapat dilakukan hanya oleh satuan pendidikan. Peran keluarga dan lingkungan juga diperlukan untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Ia mengajak orang tua agar lebih aktif mendampingi anak, tidak hanya dalam pengasuhan, tetapi juga dalam memberikan stimulasi dan kasih sayang.

“Guru tidak bisa bekerja sendiri. Saya mengajak Ayah Bunda untuk hadir, mendampingi, tidak hanya mengasuh, tetapi mengasah dan mengasihi,” tuturnya.

Melalui seminar tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur berharap terbangun pemahaman dan kolaborasi yang lebih kuat antara satuan pendidikan, keluarga, pemerintah dan mitra pendidikan dalam mewujudkan PAUD berkualitas untuk seluruh anak.

Penguatan pendidikan inklusif sejak usia dini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan belajar secara adil, aman dan sesuai dengan kebutuhan setiap anak.

“Melalui Seminar hari ini, saya berharap kita semua pulang membawa ilmu baru, semangat baru, dan jaringan baru untuk bersama-sama mewujudkan PAUD Berkualitas untuk Semua Anak,” pungkasnya. (Adv)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *